Suku Batak Dengan Berbagai Perkembangannya

www.idtoba.com
IdToba.com - HORAS!!!, Sesuai sejarah batak, mayoritas masyarakat batak merupakan keturunan dari Si Radja Batak, orang ini lahir melalui keturunan supranatural di Bukit Pusuk, di daerah yang sekarang dinamai Danau Toba.

Menurut penuturan antropolog, warga batak merupakan orang keturunan dari suku-suku utara Myanmar dan Thailand dari gunung neolitik, yang terdesak pada arus suku Siam yang bermigrasi termasuk suku Mongolia. Di saat mereka sudah berada di Sumatera, mereka segera berjalan kaki ke pedalaman di sekitar Danau Toba, disana mereka menciptakan pemukiman dan rumah sendiri untuk berlindung.

Dari situlah mereka terisolasi hingga ribuan tahun oleh dunia luar. Sejauh ribuan tahun pula sesama mereka terjadi perselisihan hingga dari perselisihan inilah akhirnya muncul kelompok kelompok baru dari perpecahan mereka sendiri. Yang sekarang tersebar menjadi sub suku. Ada yang berada di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau dan juga ke daerah daerah pedalaman dan pulau kecil di sebelah timur dan barat Sumatera.

Adapun Si Raja Batak yang diawal disebutkan tadi tidak diketahui nama aslinya. Kayaknya julukan si Raja Batak merupakan istilah untuk menyebutkan pemimpin yang membawa dan menggiring warga batak lainnya di awal munculnya orang batak di tanah Sumatera. Peristiwa ini diperkirakan terjadi 3000 tahun SM.

Namun hadir pula penelitian lain yang mengungkapkan teori bahwasannya masyarakat batak purba sejatinya berdatangan dengan tahap gelombang. Rute tempuh perjalanan mereka awalnya dari Formosa, filipina dan Kalimantan yang melewati selat Malaka.


Kedatangan gelombang awal orang batak purba dimulai pada masa 7000 tahun sebelum masehi yang mana mereka mendarat di kepulauan-kepulauan di sebelah barat Sumatra. Kehadiran gelombang kedua yaitu di masa 4000 tahun sebelum masehi yang mana mereka mendarat di pantai sebelah barat. Lalu Kemunculan gelombang terakhir orang batak yaitu di masa 2000 tahun sebelum masehi, ditahun ini ada warga batak purba yang mendarat di pantai sebelah barat Sumatra dan ada juga orang batak purba yang mendarat di pantai sebelah timur Sumatra.

Seorang wisatawan Inggris bernama William Marsden di tahun 1783, menuliskan bahwa suku kanibal di pedalaman Sumatera memiliki kebudayaan yang sangat maju. Ketika itu orang batak menjadi obyek daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
www.idtoba.com 2


Di Sumatera, warga batak adalah suku yang suka perang, bersama dengan penduduk Nias, ketika itu terus terusan mereka berseteru. Mereka melaksanakan ritual kanibalisme dimana daging seseorang atau musuh yang melakukan pelanggaran mendapat hukum adat yang serius dan akan dimakan.

Sekarang ini, sudah tercantum lebih dari 6 juta warga batak yang memperluas tanah mereka hingga 200 Km di sebelah utara dan juga 300 Km selatan Danau Toba.
Mereka terbelah menjadi beberapa bagian marga.

Batak Dairi, berada di sebelah utara-barat dari Danau Toba.
Batak Pakpak, berada di sebelah utara-barat dari Danau Toba.
Batak Toba, berada di sekitar Danau Toba.
Batak Mandailing, yang berda ke selatan lebih jauh
Batak Simalungun, yang berada di sekitar Pematang Siantar
Batak Angkola, yang berada di wilayah selatan, dan
Batak Karo, yang berada di sekitar Brastagi dan Kabanjahe

Di lain suku yang tertera diatas, terdapat juga warga batak yang tercantum berasal dari propinsi aceh, yaitu : Batak Kluet, batak Singkil, Batak Alas, dan Batak Gayo. Beberapa Marga batak tersebut berada di wilayah Propinsi Aceh.

Untuk beberapa catatan sejarah, masih pula tertera suku batak diluaran dari suku batak yang tercantum barusan, yaitu : Batak Pasisi, Batak Siladang, Batak Rao, dan Batak Padang Lawas.

Masih di catatan sejarah, terselip pula istilah batak di Filipina, yaitu batak palawan, hanya saja bisa jadi kemungkinan ini cuma kesamaan label “Batak” saja dan sekarang ini masih belum ada penelitian lebih mendalam lagi mengenai istilah Batak Filipina.

Ada pula penelitian yang sangat kontroversial yaitu sempat muncul penelitian yang mengelompokkan suku-suku di rumpun batak yaitu daerah kepualauan sebelah barat Sumatera, contohnya :

  • Simalur:
– Haloban
– Lekon
– Devayan
– Sigulai
  • Enggano
  • Mentawai
  • Nias


-Beberapa kelompok suku kepulauan tersebut, memang berawal dari daerah yang sama dengan suku-suku batak yang lain. Namun untuk suku Enggano, Mentawai dan Nias karena sudah terasing di tengah-tengah laut, menciptakan budaya yang dibawa mereka dari dulu tidak terkontaminasi (tercampur) dengan budaya-budaya dari luar seperti islam, hindu, dan budha. Disinilah Enggano, Mentawai dan Nias sangat terlihat berbeda dibanding suku batak lainnya. Namun untuk tradisi, kebiasaan dan pola budaya mereka berasal dan mengakar dari sumber yang sama.

-Penggunaan Nama “Batak” atau The Name Batak secara umum sudah dimulai pada abad ke 17. Namun di tahun 77 Masehi, seorang utusan dari Kaisar Titus yang berasal dari kerajaan Romawi, yang mana dalam perjalanannya untuk menghimpun penduduk di seluruh dunia, di saat muncul di pulau Sumatera, menyebut warga yang ada di Sumatera dengan sebutan Battas, Batta , atau Batech, yang mana warga sebutan ini dipandang memiliki budaya yang paling maju dibanding yang lain. Saat itu masih belum ada istilah Simalungun, Mandailing, Toba, Samosir, Karo, Pakpak, Gayo, Alas, dan istilah-sitilah suku batak lainnya. Utusan kaisar Romawi yang bernama Pliny tersebut hanya menyebut warga pulau Sumatera dengan sebutan Battas, Batta atau Batech.

-Julukan “Batak” sejauh ini dianggap istilah yang berawal dari melayu untuk memanggil sebutan hinaan khusus untuk “perampok” atau “pemeras”, selain itu ada pula istilah lain yang lebih kasar yang diucapkan untuk ‘penikmat babi” bagi umat muslim. Memang saat ini bagi sebagian warga suku batak yang sudah masuk islam mulai enggan dibilang sebagai “orang batak”, dan lebih suka disebut dengan nama sukunya langsung seperti, “Gayo”, “Singkil”, Mandailing, “Kluet”, atau “Alas”. Juga nampaknya sebagian warga suku Batak yang kristen juga sudah mulai melepas julukan “Batak”nya, seperti Pakpak, Simalungun, dan Karo. Tapi tetap ada suku yang masih setia memajang suku bataknya hingga saat ini seperti, suku Angkola, Humbang, Samosir dan Toba.

-Apapun itu, terlepas dari “mengaku” atau “tidak mengaku” sebagai masyarakat batak dengan berbagai antiteori, mereka semua masihlah tetap sama sebagai suku batak yang berasal dari sejarah dan nenek moyang yang sama.

-Warga batak hidup dengan cara bertani. Masyarakat batak yang sukses dalam segi pertanian biasanya berada di dataran tinggi karo, yang dipasok khusus untuk Sumatera Utara, dan untuk spesialis ekspor. Jauh berbeda dibanding masyarakat Minangkabau yang terkenal Matrilineal.

-Walau mitologi dan agama batak telah diapit oleh kubu Islam Aceh, namun mayoritas warga batak merupakan kristen protestan. Apalagi di bagian utara disekitar dataran tinggi Karo dan Danau Toba.

-Orang batak masih juga mengagungkan sistem kepercayaan tradisional yang berasal dari leluhur mereka. Sistem ritual yang mengkombinasikan unsur kosmologi, pemujaan roh leluhur, dan tidak lupa sistem tondi. Tondi merupakan konsep roh atau jiwa seseorang yang dipercaya akan mengembangkan sistem keyakinan sebelum anak itu lahir.

-Rumah adat batak menggunakan arsitektur sederhana dan cendrung tradisional yang terbangun 1 sampai 2 meter dari tanah. Pola atapnya bermacam-macam dari daerah ke daerah. Namun tetap mengikuti struktur pola bangunan yang sama. Bangunan rumah adat batak terbuat dari kayu (slotted) dan atapnya menggunakan serat aren yang didesain cekung, diakhiri dengan titik yang tajam, dan terhias dengan tanduk kerbau. Hiasan umum atap rumah batak biasanya adalah ukiran kadal, spiral, ular, dan kepala raksasa yang dikombinasikan dengan mata bulat.

www.idtoba.com 3
Gbr : Rumah Suku Nias


www.idtoba.com
 Gbr : Rumah Suku Mentawai




www.idtoba.com
 Gbr : Rumah Batak Toba


www.idtoba.com 6

Gbr : Rumah Suku karo


www.idtoba.com 7
                                                                Gbr : Rumah Suku Pakpak


www.idtoba.com 8

Gbr : Rumah suku Gayo



www.idtoba.com 9
Gbr : Rumah suku batak angkola


www.idtoba.com 10
Gbr : Rumah Suku Simalungun



-Tradisi alami batak dari zaman nenek moyang adalah tarian yang dilaksanakan setelah upacara pemakaman, yang disebut tarian patung hidup “Sigalegale”. Patung ini merupakan ukiran kayu pohon beringin yang dibalut dengan pakaian tradisional sarung biru, sorban merah, dan kemeja longgar. Kemudian ulos merah yang disampingkan ke bahu ( sebuah kain tradisional orang batak yang biasanya untuk membalut bayi atau digunakan oleh sepasang pengantin untuk pemberkatan, persatuan, keharmonisan, dan kesuburan ).

-Bagaimana dan apapun asal usul tentang patung Sigalegale, tujuan Sigalegale adalah untuk menghidupkan jiwa-jiwa orang mati agar bisa berkomunikasi dan berinteraksi dengan keluarga yang masih hidup. Sigalegale Ini adalah upacara pemakaman yang sudah menjadi budaya murni orang batak sendiri.

www.idtoba.com 11
Gbr : PatungSigalegale

Belum ada Komentar untuk "Suku Batak Dengan Berbagai Perkembangannya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel