Odri Sembiring hasrat Ciptakan DOTA soundtrack etnik

Odri Sembiring hasrat Ciptakan DOTA soundtrack etnik

Hobi Odri Prince Agustinus Duin Sembiring main games membuatnya kreatif. Ingin menjadi pengembang untuk konten digital, khususnya permainan virtual. Jika selama ini yang populer DOTA (Defense of The Ancients), pria kelahiran Jakarta pada 11 Agustus 1999 itu mengeksplorasi khayalnya mengisi industri kreatif. Salah satunya mengembangkan permainan dengan tema memasak B2, chef pick — makanan khas yang semakin menjamur dewasa ini.

“Banyak ide permainan mengalir, tapi kalau game dunia masak-memasak, belum pernah ada. Mengenai menu makanan B2 karena bulang saya kan pengide, pencetus dan mengangkat makanan tradisional Karo menjadi kuliner modern dengan mengibarkan bendera BPK Tesalonika,” ujar Odri didampingi pembimbing humaniora Dra Maniur Sirumapea di Medan, Selasa, (19/5).

BPK Tesalonika didirikan Pnt (Emeritus) Radu Meliala – Curmin Brahmana di Simpang Selayang Medan. Perlahan tapi pasti kini rumah makan kuliner etnik yang dikerjakan modern  tersebut memiliki sedikitnya 8 cabang di sejumlah daerah. Odri, jika ada waktu senggang, ikut terlibat melayani publik. Dari sana timbul ide menjadikan kuliner dalam games.

 “Games itu butuh kesatupaduan. Dalam bermain pun butuh tim yang kuat, seperti mengolah adonan hingga kuliner adilezat. Jika selama ini dalam permainan yang diketengahkan cenderung perang, kenapa tidak dunia masak-memasak yang juga membutuhkan tim,” tandasnya.

DOTA adalah game yang diciptakan melalui World Editor — salah satu yang dirilis adalah Warcraft : The Frozen Throne — Odri berhasrat menciptakan melewati pakem tersebut yakni mengadopsi hal-hal etnik. “Dalam pikiran saya, industri kreatif berbasis kearifan lokal, salah satunya mengangkat unsur etnik, misalnya dari sisi soundtrack. Bulang saya juga penikmat musik etnik,” tandas Odri.

Sebagai remaja yang semakin dekat dengan dunia virtual, Odri memfavoriti sejumlah permaian seperti DoTA 2 dan Lost Saga tapi mengagumi game Puppey ciptaan Clement Ivanov. Pengembang berdarah Rusia tersebut bahkan pernah meraih posisi terhormat di dunia sebagai pembuat permainan terbaik.

Dari sisi animasi, Odri demen dengan manga Naruto yang sudah berakhir di Jepang sejak 10 November 2014. Sebagai penikmat mahakarya ciptaan Masashi Kishimoto itu, Odri mengutip sejumlah hal positif termasuk menginspirasinya menuangkan kreativitas. “Seperti  Naruto, soundtracknya diangkat dari etnik Jepang,” ujar Odri sambil menunjuk lagu-lagu seperti Haruka Kanata oleh Asian Kung-Fu Generation, Viva Rocks oleh Orange Range serta Go!!! yang dibawakan Flow. “Tidak sedikit lagu Karo yang sudah mendunia. Kenapa tidak diangkat menjadi theme song animasi!”

Sejumlah tayangan animasi lain pun tak sekadar disaksikannya, seperti Tin Titans dan Adventure the Anima. “Semua animasi populer pasti nikmat ditonton tapi tetap ada plusminus,” nilai Odri.

Odri adalah putra tunggal dari pasangan Dr Liona Ginting – Ir Henri Duin Sembiring. Lahir di ibu kota Indonesia mengikuti tugas orangtua di Lampung namun mengakrabi ragam kebudayaan Indonesia seperti Palembang dan Jambi. Pindah ke Lubukpakam karena orangtuanya mengembangkan usaha kuliner dengan mengibarkan BPK Tesalonika.

Menimba ilmu di SD RK Lubukpakam dan melanjut ke SMP St Thomas 1 hingga sekarang di SMA St Thomas. Selama riwayat pendidikan, Odri naik-turun meraih gelar terbaik. “Bulang saya sangat kecewa jika cucu-cucunya tidak meraih prestasi. Bila juara, selain senang, bulang pun memberi hadiah,” ujar Odri yang terinspirasi sepupunya, Ecel Hizkia yang menjadi jawara di sekolah internasional Djuwita Pekanbaru.

Pemahaman pada dunia maya melalui otodidak tapi pamannya, Erhman Ginting memberi pengetahuan lebih hingga kemampuan Odri menyelami dunia maya semakin intens. (R9/ r)

Belum ada Komentar untuk "Odri Sembiring hasrat Ciptakan DOTA soundtrack etnik"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel